Raja Jadi Ulama dan Ungu-pun Jadi Putih
Published October 16th, 2006 in General.Selera musik saya tergolong konservatif. Sepanjang tahun hanya mengulang-ulang U2, Queen, Rod Stewart, Cat Stevens & beberapa grup nasyid lokal. Tapi karena suka mencoba mendengarkan apa saja, koleksi lagu di iTunes saya mencapai 18,7 GB atau setara dengan 5000 lagu berukuran 4MB (1 GB= 1,073 MB). Disana Anda bisa menemukan Kornchonk Chaos, Frank Sinatra atau Linkin Park, pokoknya betul-betul apa saja. Saya berusaha terus meng-update referensi lagu-lagu baru dari beragam genre meskipun sangat jarang sampai menyukainya. Habis puter-puter Keane & Muse, saya akan kembali setia dengerin U2 atau Rabbani, grup nasyid favorit. Dan kebetulan iMac ini hard disknya 160 GB, jadi jelas masih bisa menambah lebih banyak lagi.
Tapi begitu Ramadhan tiba, saya langsung menghentikan SongWalking (niru-niru istilah BlogWalking) dari koleksi belasan giga itu. Dengan in-ear headphones, saya hanya akan memutar Izzatul Islam, Rabbani, Opick dan semua koleksi Nasyid, keras-keras tanpa ada orang lain yang tahu. Hehehe. Ini salah-satu cara untuk membedakan Ramadhan dengan bulan lain, biar Ramadhan jadi lebih terasa. Klise memang, tapi saya cocok dengan cara ini.
Namun Ramadhan kali ini agak sulit mencari koleksi Nasyid baru. Hanya satu-dua yang benar-benar baru. Lainnya kalau nggak daur ulang ya sisa stok. Pemain-pemain lama hilang begitu saja. Padahal pasar untuk musik ini sangat besar.
Belakangan justru peluang ini diembat sama pemain-pemain yang kemarin mendulang emas di lahan sebelah. Grup-grup band pop yang tidak pernah terlihat kontribusinya pada musik islam tiba-tiba terlihat bersorban manggung di TV. Tahun lalu sudah ada, tapi koq ya tahun ini menjamur. Bukannya tidak ikhlas mereka ikut merangsek ke area nasyid, tapi masalahnya mereka itu selama ini hanya saya anggap sebagai oportunis di dunia musik. Mereka ambil chord lagu-lagu U2, Oasis atau Coldplay yang sudah cocok sama kuping ABG-ABG indonesia, lalu mereka gubah jadi lagu mereka sendiri. Keluarin satu-dua video klip langsung meledak dan dapet platinum. Begitu pasar bosan, mereka ambil chord lain, diubah lagi, dijual lagi dan laku keras lagi. Nah sekarang siapa yang tidak sebal melihat mereka manggung pake sorban dan nyanyi lagu-lagu yang jelas bakal laku di bulan ini. Kalau ditanya wartawan, jawabannya klasik, “Dari dulu kami pingin nyanyi lagu seperti ini”. Hmm… oportunis ya oportunis! Kalau mereka bilang mau nambah THR misalnya, saya justru lebih respek, tapi tetap nggak akan beli kasetnya :p
Yang jelas sekarang, Ramadhan tinggal seminggu. Di bulan penuh tes & reward ini waktu saya lebih banyak sia-sianya. Saya hanya berharap 6 hari kedepan ini bisa lebih ikhlas melihat semua ketidakcocokan. Termasuk band-band oportunis tadi. Siapa tahu Allah memang mengirim mereka untuk satu tugas khusus: membuat kita jengkel setengah mati. Dan buat Anda yang suka atau bahkan membeli kasetnya, reward besar mungkin sudah menunggu didepan karena berarti Anda sudah lulus tes kesabaran. Selamat!
Sip, judulnya keren. Sumpah.
Tapi hati-hati membedakan cord dan chord.
Kalo pas dibaca klien musisi, ntar diketawain:)
Wah, maklum buta urusan itu Om. hehehe. Kalo gitu kuganti deh